Rabu, 20 Maret 2019

"Mencintai Apa yang Dikerjakan" atau Sebaliknya? Atau tidak Keduanya?

Kalian termasuk pasukan mana nih guys, yang "Mencintai apa yang dikerjakan" atau "Mengerjakan apa yang dicintai?". Sambil menatap wajah-wajah yang diliputi kebingungan, satu tangan tiba-tiba mengacung dengan mantap. "Kamu sendiri tipe yang mana?" dia bertanya dengan suara yang jelas terdengar di seluruh ruangan. Jujur aku ga siap dengan pertanyaan ini. Aneh ya, mestinya sebelum pertanyaan yang keluar dari mulutku kulontarkan kepada orang lain, ada baiknya pertanyaan itu aku 'uji coba' untuk diriku sendiri. Setelah jeda waktu hening beberapa detik akhirnya aku mulai bersuara. 

Bagiku, kondisi ini bukanlah sesuatu yang konstan. Di masa kecil sampai dengan lulus SMA dimana tiada beban yang ditanggung akan sangat mudah melakukan apa yang disukai tanpa mengindahkan logika sebab akibat. Masuk fase mahasiswa diusia 17 tahun dengan embel-embel 'maha' tersebut, seseorang dianggap sudah memahami ada akibat dari suatu pilihan atau perbuatan. Disini mulai digunakan logika dan aspek pertimbangan sebelum melakukan apapun. Contoh mudahnya, walaupun si A tidak menyukai mata kuliah tertentu dia tetap harus mengikuti kuliah tersebut karena sadar akan konsekuensi mata kuliah tersebut dapat menyebabkan IPK jeblok. Atau malah jika ada standar minimal yang ditetapkan misalnya C dan dia tidak dapat melampauinya, akibatnya dia harus mengulang terus-menerus dan berdampak pada penundaan kelulusan. 

Lulus dari dunia perkuliahan mulailah disibukkan dengan mencari-cari pekerjaan yang pada saat itu dilatarbelakangi keinginan kuat untuk dapat mencari nafkah sendiri. Tadaaa, akhirnya keterima kerja dan mulailah petualangan di dunia kerja. 1 bulan masih oke, 6 bulan mulai membosankan, 1 tahun mulai menyadari bahwa ini bukan 'passion' . Tanpa pikir panjang surat resign pun dilayangkan dengan mudah karena status masih single dan tidak ada beban yang menggelayuti. Usia masih muda dan masih relatif mudah untuk nyari-nyari kerja di tempat yang disuka, jikapun ada kendala finansial masih bisalah nebeng hidup ke mama papa atau menggunakan sisa gaji sebelumnya yang sempat ditabung. Hanya dalam waktu 3 bulan apply sana sini akhirnya dapatlah pekerjaan yang dinginkan saat itu. Bekerja 1 tahun, merencanakan pernikahan, punya anak pertama, punya anak kedua. 5 Tahun sudah berjalan tanpa terasa. Mulai muncul kegalauan dan kegundahan akibat atasan yang very annoying, karir yang mandek, like and dislike  dan banyak hal lainnya yang bisa menjadi trigger untuk memutuskan I AM OUT FROM THIS HELL. 



Usaha untuk Mencintai Apa Yang Dikerjakan terus-menerus dilakukan tapi yang ada malah makan hati dan stress yang menjurus ke depresi. Pada akhirnya si A mengetahui bahwa yang diinginkannya atau yang dinikmatinya adalah menjadi motivator atau speaker. Kepalanya mengepul setiap kali dia memikirkan bagaimana kondisi finansial keluarga apabila resign apalagi anak yang pertama tahun depan akan masuk sekolah, bagaimana biaya susu dan popok anak, bagaimana KPR rumah dan sebagainya. Terlalu besar resiko yang harus dia hadapi jika resign sehingga pilihan terakhir adalah tetap bekerja walaupun dia tidak 'menikmatinya' semata-mata karena pekerjaan itu bisa menghasilkan uang yang menjamin hidupnya sekeluarga. Dan dia terus menjalani hidup sampai menyelesaikan pertandingan di dunia ini alias meninggal. 

Jadi, kedua pernyataan itu menurut saya bukan perihal benar atau salah. Semua sangat tergantung dengan kondisi dan pertimbangan dari masing-masing individu yang menjalani. Gimanapun hidup harus tetap berjalan, klo bahasa kerennya show must go on. Pesen aku sih, apapun kondisi kita tetap bersyukur, berdoa, bahagia dan meaningful. Tuhan pasti buka jalan!



*Ini bukan cerita tentang saya sepenuhnya. Ini merupakan penggabungan dari beberapa situasi yang dialami oleh beberapa orang yang saya kenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar