Hai Sobat Brighter, pada tulisan kali ini aku akan mengangkat kisah tentang kakak kandungku yang tepat awal Maret 2017 divonis dokter menderita Kanker Usus Besar. Kisah di bawah ini hanya sepenggal perjalanan yang dia lalui kurang lebih 1 tahun paska vonis tersebut ketika dia ditemani suaminya kontrol ke salah satu Rumah Sakit di Penang. Mohon doanya semoga kakak saya tetap kuat menjalani seluruh proses pengobatan hingga akhirnya dipulihkan oleh Tuhan dan menjadi sumber berkat dimanapun dia berada. Kata-kata penguat yang dia pegang dan imani sampai saat ini adalah "Hati yang Gembira adalah Obat yang Mujarab namun Semangat yang Patah Mengeringkan Tulang". So, selamat membaca dan menyelami kisah ini sembari mendoakan kakak saya ya Sobat Brighter. Love u all ☺☺
"Elly Nurida Silalahi",
aku terperanjat mendengar suster memanggil namaku. Dengan tergesa-gesa
kugandeng tangan suamiku dan kami berpegangan tangan dengan erat menuju ruangan
Dokter Saw, Dokter Onkologi yang telah menangani penyakitku selama 1 tahun
lebih ini. Aku tak kuasa menahan degupan keras pada jantungku, kulirik sekilas
suamiku dan diapun sama gelisahnya denganku. Dokter Saw meminta kami
mendekatinya sambil beliau sibuk menggerakkan mouse maju mundur, bunyi klik
klik terdengar cepat dan file-file di computer mulai terbuka. Semakin aku
penasaran bagaimana sebenarnya hasil CT Scan yang telah dilakukan kemarin. Si
dokter mulai berdehem pertanda dia sudah siap untuk memulai pembicaraan. “Banyak
masalah”, merupakan untaian kata yang pertama keluar dari mulutnya. Suamiku
langsung membalas dengan pertanyaan, "Cancer kah dok?". Si Dokter
langsung menjawab "iya, benar". Berusaha mengumpulkan kekuatan
suamiku bertanya kembali, "stadium berapa dok?". Jawaban mengalir
dari mulut dokter "stadium 4, bukan hanya di rectum tapi paru paru kiri
kanan sudah kena". Tanpa kuperintah, air mata mengalir deras dan aku ga
mampu mengucapkan sepatah kata pun. Tubuhku terasa kaku, dingin menjalari
seluruh tubuhku, bahkan untuk melangkah pun aku tidak mampu. Tanpa melihat pun
aku yakin suamiku pun sedang mengalami kelumpuhan baik tubuh dan pikiran saat
itu. Aku merasakan saat-saat dimana waktu berhenti sepersekian detik.
Kami tersentak saat mendengar
suara dokter meminta kami untuk duduk sambil menenangkan diri. Pandangan dan
pikiran kami kosong, tidak atahu harus berkata dan berbuat apa.
"Apa yang bisa kami lakukan,
dok?" tanyaku dengan suara lirih dan bergetar.
"Tak banyak, kemo radiasi pun
hanya memperlambat" jawab sang dokter dengan dialek Inggris Melayu nya.
Perlahan kutolehkan kepalaku dan
melihat suamiku sudah menengadah ke atas dan berusaha untuk membendung air
matanya, namun air mata itu tak terbendung dan menetes dengan derasnya. Seketika
dinding pertahananku pun kembali bobol dan bergabung dengan suamiku menambah
derasnya air mata di ruangan itu.
Satelah beberapa saat dan
berhasil menenangkan diri, suamiku kembali bertanya dengan suara terbata-bata,
“apa yang bisa kami lakukan dok agar istriku ini dapat pulih? Tahapan apa lagi
yang akan kami tempuh agar istriku ini bisa sembuh?. Dokter mencoba menjelaskan
dengan panjang lebar dilengkapi dengan istilah-istilah medis yang sulit sekali
kucerna pada saat itu. Namun, intinya sudah dirumuskan oleh beliau bahwa aku
hanya dapat bertahan 1 tahun tanpa penanganan apa-apa atau paling lama bertahan
2 -3 tahun dengan bantuan kemo radiasi.
Air mataku sudah kering dan yang
tersisa hanya perih. "Mora" hanya itu yang terlintas dikepalaku
"Mora mora mora mora
mora",Gadis kecilku yang cantik.
Sedihnya Tuhan...berat banget
...beratt..
Hening melingkupi kami, vonis
sudah dijatuhkan. Sungguh kami hilang akal harus melakukan dan mengatakan apa.
Dengan langkah berat setengah diseret kami keluar dari ruangan dokter. Belum
sampai di pintu keluar tangisan tak lagi bisa kami bendung. Air mata lah yang
menjadi teman setia kami pada saat itu sambil bergandengan tangan dan
berpelukan erat.
Tiket pesawat untuk ke Medan sudah
dibeli dengan jadwal penerbangan pukul 18.50. Kulirik lemah jam tanganku dan
waktu masih menunjukkan pukul 13.00. Perut kami mulai keroncongan dan
memutuskan untuk makan siang. Di sela-sela waktu makan air mata sesekali masih
menetes terutama saat aku dan suamiku beradu pandang.
Tanpa kami sadari, didepanku ada seorang
ibu keturunan tionghoa juga sedang makan. Perhatian kami tidak sedikitpun untuk
ibu itu dan entah kapan dia telah selesai makan. Tiba-tiba Ibu itu berkata
kepada kami "Tuhan memberkati kalian berdua" dan langsung pergi tanpa
menoleh sekalipun. Aku dan suami langsung menangis sambil kami berpegangan
tangan dengan erat sekali. Entah kenapa tiba tiba aku berucap dalam hati
"Tuhan, Engkau kah itu?"
Setelah kami berdua tenang
akhirnya kami memutuskan ke RS. Mount Miriam untuk mencari second opinion. Sesampainya disana kita diterima oleh customer
service nya dengan sangat ramah. Dia menginfokan bahwa jadwal dokter hanya ada
di malam hari atau keesokan harinya. Untuk menunggu besok sepertinya aku ga
mampu, yang ada di pikiranku saat itu adalah pulang dan membahas
langkah-langkah selanjutnya dengan keluarga besar. Tapi susternya masih mau
mencoba untuk menanyakan langsung ke ruang dokter apakah konsultasi dan
pemeriksanaan bisa dilakukan saat itu atau tidak. Keluar dari ruangan dokter,
suster itu menghampiri aku dengan tergopoh-gopoh, duduk didepanku sambil
memegang tanganku "Ibu semangat yah harus riang ..ada anak kan?"
Please, jangan ingatkan aku
tentang anakku, tangisku kembali pecah begitupun dengan suamiku. Dengan lembut
suster berkata kepadaku, " di lantai 5 ada kapel, boleh kesana jika
mau"
Kapel? Itulah kata terindah yang
aku dengar hari itu. Tempat itulah yang sangat aku butuhkan dimana aku bisa
duduk dan bersujud untuk menceritakan semua keluh kesah dan kesesakanku kepada
Tuhan. Tanpa menunggu lama aku dan suamiku berpegangan tangan menuju lantai 5.
Keluar lift, kami disambut dengan ketenangan dan gambar-gambar Tuhan Yesus yang
benar benar meneduhkan jiwa. Ruangannya kecil tapi berasa hikmat banget. Begitu
masuk ke kapel tangisku kembali tumpah tak terbendung. Aku menangis sekencang-kencangnya
sambil berlutut dan memohon kepada Tuhan. Hanya 1 kalimat yang selalu aku katakana
dan terus kuulang "ampuni aku Tuhan...ampuni aku Tuhan"
Setelah puas menangis aku mulai
tenang dan mengajak suamiku berdoa bersama. Saat itu juga keputusan kami mantap
untuk pulang terlebih dahulu, menenangkan diri dan mendiskusikan langkah
selanjutnya dengan keluarga besar terlebih dahulu.
Dari awal divonis dokter menderita
kanker usus stadium 4 dan dilakukan tindakan dengan memotong hati hingga 1/3
bagian, tak pernah sekalipun aku mengatakan "kenapa aku Tuhan?" Aku
ingat banget pada tanggal 2 Maret 2017 dimana suamiku membawaku ke mobil dan
memberitahukan vonis dokter. Aku menangis sekencang kencang nya dan bilang
"ampuni aku Tuhan" sampai-sampai suami bilang "kamu salah apa,
de?" Dan aku bilang bahwa "aku hanya ingin memohon pengampunan dari
Tuhan".
Dan saat inipun aku kembali divonis
dokter menderita kanker paru-paru stadium 4 dan sudah menyebar hingga rektum bahkan
dokter juga mengatakan bahwa dia angkat tangan dna tak mau lagi melanjutkan
pengobatan dan memintaku untuk berobat di Indonesia saja dengan BPJS, aku terus
memohon kekuatan dan kesembuhan dari Tuhan. Aku tidak akan menyerah karena
Tuhan belum selesai dengan aku.
Selain itu, hal yang
sangat-sangat aku syukuri ada memiliki keluarga yang sangat peduli dan sayang kepadaku,
menjadi penguatku dan sandaranku. Kami bersama-sama mengimani bahwa “Tak ada
yang mustahil bagi Tuhan, MukjizatNya nyata" atasku.
Dan aku percaya bahwa berapa lama
manusia hidup bukan kewenangan manusia untuk menetapkannya namun merupakan
otoritas penuh dari Allah Bapa, Sang Pemilik Hidup yang menciptakan langit bumi
dan seluruh isinya. Burung pipit saja Tuhan pelihara, apalagi aku yang tentunya
lebih berharga dari burung pipit bukan? Dan aku juga mau share sedikit tentang lagu
yang menjadi penguatku saat ini:
Sungguh kupercaya
Tiada yang mustahil
Mukjizat masih ada dalam hidupku
Sembuhkan sakitku
Pulihkan jiwaku
Mukjizat masih ada bagiku
Aminnn... Mujizat masih ada bagi
orang yang berserah dan Percaya.
Ohh iyahh guys...buat yang uda
deal make up don't worry be happy ya.. hehe...God with us ...so we can do it
together, aku akan membuatmu cantik di hari spesialmu. Amin
